IDEOLOGI : SEBUAH PENGANTAR
Persoalan ideologi merupakan persoalan yang teramat penting. Di era abad ke 21 yang “pragmatis “ ini, barangkali merupakan hal yang aneh orang masih bicara ideologi. Tapi realita yang terjadi akhir-akhir ini justru menunjukan sebaliknya. Munculnya radikalisme dan fundamentalisme agama diberbagai pelosok dunia ( termasuk di tanah air), kebangkitan kekuatan- kekuatan kiri di Amerika Latin, munculnya ethnonasionalisme diberbagai tempat merupakan sekelumit dari fakta yang berlimpah bahwa ideologi tetap menjadi issue of the day.Yang kemudian jadi pertanyaan adalah : apakah sebenarnya ideologi itu ?
Ideologi adalah cita-cita yang terstruktur yang di dasarkan pada pengetahuan dan keberpihakan yang jelas. Dalam praktiknya, ia menjadi penuntun dan alat ukur dalam penyelenggaraan negara, seperti dalam penyusunan kebijakan publik, pelaksanaan kebijakan tersebut, manfaat kebijakan dan sebagainya. Selain itu, Ideologi pun merupakan sebuah bingkai (frame) bagi tatanan kehidupan bermasyarakat yang pada gilirannya memberikan arah bagi dinamika politik, ekonomi dan juga masyarakat secara keseluruhan.
Untuk bisa menjalankan fungsinya di dalam praktik, maka ideologi perlu juga memiliki sejumlah elemen seperti kemampuannya mendeskripsikan kondisi masyarakat yang ia potret, rasakan dan ia lihat sesuai paradigmanya. Kemampuannya memotret ini kemudian diikuti dengan alat analisa yang nantinya membongkar sebab-sebab dari kondisi masyarakat ia potret tersebut.
Langkah selanjutnya, sebuah ideolagi perlu juga mencantumkan apa yang menjadi cita-citanya, yaitu sebuah perwujudan tatanan ideal yang hendak diraihnya, disertai dengan penolakan (negasi) terhadap hal-hal yang harus disingkirkan untuk mencapai cita-cita tersebut. Sebagai konsekuensinya, sebuah ideologi mesti memberikan preskripsi berupa jalan keluar yang dia tawarkan.
Agar bisa operasional, sebuah ideologi mesti kita kaitkan dengan realita. Dalam proses mengaitkan dengan realita itu maka kita akan menjumpai hal-hal berikut ini :
- Ideologi Dasar (Basic Ideologi),
- Ideologi Kerja (Working Ideologi),
- Strategi dan Kebijakan Politik (Strategi and Policy),dan
- Program dan Tindakan (Programme and Action)
Lebih lanjut, sebuah ideologi bisa kita bedah dalam sejumlah tataran, yaitu :
1. Tataran Gerakan : dalam tataran ini ideologi kemudian menjadi sebuah inspirasi bagi kelompok masyarakat tertentu untuk membantu mereka menentukan sikap atas barbagai gejala sosial yang mereka temui. Contoh : Islamisme, Komunisme.
2. Tataran Partai : dalam kehidupan kepartaian, ideologi memerankan diri sebagai identitas yang dioperasikan oleh partai politik tertentu. Contoh Liberalisme.
3. Tataran Negara : dalam tataran negara, ideologi kemudian menjadi dasar pijakan sebuah negara, Contoh : Pancasila.
4. Tataran Lintas Negara : ideologi yang sudah menjadi kekuatan berpengaruh pada level internasional dan beroperasi lintas negara. Contoh : Kapitalisme neoliberal (globalisme).
Ada bermacam ideologi yang bisa kita kenali disini, misalnya: Liberalisme, Kapitalisme, Imperialisme, Neoliberalisme, Globalisme, Fasisme, Sosialisme, Erokomunisme, Fundamentalisme, Islamisme, Post-Modernisme dan sebagainya.
Keragaman ideologi tersebut terus akan bertambah seiring dengan perkembangan zaman. Akan tetapi prinsip-prinsip dasar dan tataran operasi dari ideologi tetaplah tidak berubah, sebagaimana sudah sedikit disinggung diatas. Pertanyaannya adalah : bagaimana bangsa Indonesia menenmukan ideologinya ditengah perkembangan-perkembangan baru pada tatanan global dan nasional sekarang ?
Surat dari Che Guevara
Untuk kawan – kawan muda
“ Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di
suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja “.
( Che Guevara )
Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap. Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan dan sekolah yang kini kian mahal. Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau membela orang miskin. Kupilih tinggal serta berjuang dihutan karena disana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.
Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali kenegerimu pastilah aku enggan untuk duduk dikursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin. Akan kusapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh. Akan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan kubantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya unutk menjinjing ala-alat berat. Dan akan kutemani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Kurasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.
Kalau aku boleh memilih untuk melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian. Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, buku apalagi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah. Hutan rimba mengajariku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk tidak terlalu yakin dengan janji. Aku sudah hafal mana tabiat srigala dan mana watak kelinci. Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa meyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinya. Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku sejak dulu di didik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa!
Kalau aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian. Menonton orang – orang pandai berdebat di muka televisi atau aktivis yang melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang – orang pandai yang berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivis senior yang kini juga berebut untuk duduk jadi penguasa. Katanya : didalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya. Aku bilang, itulah para pembual yang yakin jika perubahan bisa muncul karena kita duduk dibelakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari dalil yang naif seperti ini. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih, untuk berdiri dan berbincang dengan kalian semua.
Anak muda, aku telah tuliskan puluhan karya untuk menemanimu. Dibungkus dengan sampul wajahku, yang tampak belia dan mungkin tampan, aku tuangkan pesan pada kalian. Keberanian yang membuat kalian akan tahan dalam situasi apapun! Hutan melatihku untuk percaya, kalau kemapanan, kenikmatan badaniah apalagi kekayaan hanya menjadi racun bagi tubuh kita. Kemapanan membuat otakmu makin lama makin bebal. Kau hanya mampu mengunyah teori untuk disemburkan lagi. Kemapanan membuat hidupmu seperti seekor yang hanya mampu berjalan merayap. Kekayaan akan membuat tubuhmu seperti sebatang bangkai. Hutan melatihku untuk menggunakan badanku secara penuh. Kakiku untuk lari kencang bila musuh datang dan tanganku untuk mengayun pukulan jika aku diserang. Anak muda nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang, niscaya tak ada gunanya kau hidup!
Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk. Hutan membuatku selalu awas dengan ketenangan, kedamaian dan cicit suara burung. Hutan melatihku untuk sensitif pada suara apa saja. Jangan mudah kau terpikat oleh kedudukan, pengaruh dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Kutinggalkan jabatan menteri karena hidupku lebih terbatas dan ruang sosialku dipenuhi oleh manusia budak, yang bergerak kalau disuruh. Apalagi ketenaran akan melumpuhkan energi perlawananmu karena kau ingin menyenangkan semua orang. Ingat, racun segala perubahan ketika dirimu merasa nyaman.
Rasa nyaman yang kini kusaksikan disekelilingmu. Anak-anak muda yang puas menjadi pekerja upahan sambil menyita tanah sesamanya. Ada anak muda yang duduk diparlemen malah minta tambahan gaji! Anak muda yang lain dengan tenaganya menyumbangkan diri untuk menjadi preman bagi kekuasaan bandit. Bahkan pendidikan hukum mereka gunakan untuk membela kaum pengusaha ketimbang orang miskin. Anak-anak muda yang banyak lagak ini memang tidak bisa dibinasakan. Mereka hidup karena ada kemiskinan, keculasan kekuasaan dan lindungan proyek lembaga donor. Aku enggan untuk berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel, keperkasaan dan kelincahan berdebat. Aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup melawan arus.
Arus itulah yang kini menenggelamkan nyali kita semua. Murah sekali harga seorang aktivis yang dulu lantang melawan tapi kini duduk empuk jadi penguasa. Murah sekali harga idealisme seorang ilmuwan yang mau menyajikan data bohong tentang kemiskinan. Murah sekali harga seorang penyair yang mau rame-rame mendukung pencabutan subsidi. Aku gusar memandang negerimu, yang tidak lagi punya ksatria pemberani. Seorang ksatria yang mau hidup dalam kesunyian dan dengan gagah meneriakan perlawanan. Tulisan adalah senjata sekaligus bujukan yang bisa menghanyutkan kesadaran perlawanan. Kau harus berani mempertahankan nyalimu untuk selalu bertanya pada kemapanan, kelaziman dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh para penguasa.
Yang kau hadapi sekarang ini adalah sistem yang kuncinya tidak terletak pada satu orang. Kau berhadapan dengan dunia pendidikan yang menghasilkan ilmu bagimana jadi budak yang baik. Kau kini bergulat dengan teman-temanmu sendiri yang bosan hidup berjuang tanpa uang. Kau sebal dengan parlemen yang dulu ikut kau pilih tetapi kini tambah membuat kebijakan yang menyudutkan rakyat. Kau perlahan-lahan jadi orang yang hanya mampu melampiaskan kemarahan tanpa mampu untuk merubah. Kau kemudian percaya kalau pemecahannya adalah melalui mekanisme, partisipasi, dukungan logistik yang mencukupi. Kau diam-diam tak lagi percaya dengan revolusi. Kau yakin perubahan bisa berjalan kalau dijalankan dengan berangsur-angsur dan membuat jaringan. Gerakanmu lama-lama mirip dengan bisnis MLM ( multi level marketing ).
Saudaraku yang baik! Hukum perubahan sosial sejak dulu tidak berubah. Kau perlu didedikasikan hidupmu untuk kata yang hingga kini seperti mantera: melawan! Lawanlah dirimu sendiri yang mudah sekali percaya pada teori perubahan sosial yang hanya cocok untuk didiskusikan ketimbang dikerjakan. Lawanlah pikiranmu yang kini disibukan oleh riset dan penelitian yang sepele. Kemiskinan tak usah lagi dicari penyebebnya tapi cari sistem yang harus bertanggungg jawab. Ajak pikiranmu untuk membaca kembali apa yang dulu kukerjakan dan apa yang sekarang dikerjakan oleh gerakan sosial diberbagai belahan dunia. Gabungkan dirimu bukan dengan LSM tapi bersama-sama orang miskin untuk bekerja untuk membuat sistem produksi. Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda kecuali dua hal :bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan.
Opportunisme yang jadi gejala umum harus ditumpas dengan mulai mendedikasikan organ pada dua upaya : memperkuat tradisi intelektual yang mulai kritis pada pendekatan-pendekatan yang berupaya “memoderasi” dan yang kedua, adalah mendorong kapasitas organ untuk bekerja pada sisi rakyat ketimbang memihak pada kekuasaan. Tradisi intelektual itu bisa dicerahkan dengan mulai membuka studi pendidikan kerakyatan yang melatih berorganisasi dari tingkatan kampung. Gerakan tak bisa berdiam diri hanya untuk melakukan kerja-kerja lazim, butuh, aksi progresif yang meminta kepercayaan rakyat sekaligus mengembangkan fungsi perwakilan politik yang nyata. Gerakan memang tak lagi harus meyakini cara-cara normal sebagaimana yang dipraktekan oleh LSM opportunis- melainkan – mendorong gerak rakyat untuk bisa mengambil alih kursi-kursi kekuasaan yang selama ini dihuni oleh para politisi bangsat. Sekali jangan percaya kepada tradisi gerakan palsu, yang dengan gampang mematahkan keyakinan rakyat.
Salam kami dari jalanan .....
Setialah hingga akhir dalam keyakinan.....
Salam Juang
Front Pembebasan...!!!
Mencari Akar Benih-Benih Oportunisme
Dalam Tubuh Gerakan
Oportunisme dalam tubuh gerakan merupakan sebuah kajian yang penting dan mendesak bagi setiap elemen pergerakan yang berkeyakinan adanya sebuah perubahan dengan sistem yang lebih baik. Membidik garis oportunisme itu pun pasti perdebatan sengit tiada habisnya terutama diletakkan dalam kerangka garis ideologi yang dianut. Setiap ideologi tidak membenarkan ideologi yang lain, sifatnya tidak terdamaikan dan label oportunis akan melekat pada kaum yang dengan tidak menjalankan metodologi kerja secara benar.
Secara garis besar, oportunisme adalah paham yang lahir dari ketidaksesuaian antara teori dan praktek, tidak dijalankan garis yang berhaluan erat dengan massa rakyat seta tidak adanya mekanisme yang kritik. Dalam catatan sejarah pergerakan Indonesia seringkali diketemukan adanya pergulatan organisasi gerakan sejati dan oportunisme gerakan dimana pendirian atau kedudukan klas menentukan pandangan dunianya. Pandangan yang benar adalah sesuai dengan apa adanya tanpa ditambah ataupun dikurangi bukan penuh rekayasa apalagi subyektif.
Ketidak sesuaian teori dan praktek
Pertama, ideologi adalah cermin dari kepentingan dan tujuan klas, merupakan pangkal untuk melangkah membela kepentingan dan tujuan klas. Salah dalam ideologi berarti salah dalam membela kepentingan dan tujuan klas. Kelemahan-kelemahan ideologi berakar sejarah yang lama yaitu subyektifisme yang basis sosialnya berpikir subyektif, berat sebelah dalam meninjau masalah-masalah, tidak bertolak dari kenyataan obyektif, dari imbangan kekuatan klas-klas yang obyektif tetapi dari kemauan subyektif, perasaan subyektif dan angan-angan subyektif. Dalam arti lain subyektifisme menjadi sumber ideologi kesalahan-kesalahan dogmatisme dibidang teori. Terlihat trend gerakan inti Neo-Liberalisme tetapi tidak menolak kapitalisme padahal Neo-Liberalisme adalah bentuk lain dari perkembangan kapitalisme.
Kedua, oportunisme kiri maupun kanan merupakan garis politik dari ideologi yang subyektif. Ke-oportunis-annya terwujud pada jalan damai atau kompromi dengan menyesuaikan kepentingan pihak lawan. Bentuk nyata lewat gerakan terlibat dalam parlemen dan ikut serta dalam pemilihan umum. Praktis secara pencapaian tujuan dan bentuk perjuangan yang cenderung lebih bersikap moderat terhadap rezim.
Ketiga, dalam ranah organisasi, berbekal subyektifisme dan Ke-Oportusis-an maka terlahirnya liberalisme yang menempatkan organisasi sebatas untuk merekrut anggota sebanyak mungkin (organisasi massa) ataupun sebaliknya hanya menggarap wilayah kualitas anggota semata yang jauh dari massa. Sistem organisasi yang longgar membuka celah-celah penyusupan barisan oportunis. Ditambah dengan legalisme dimana organisasi yang berlawanan kepentingan dengan penguasa anti rakyat justru meminta legalisasi organisasi.
Tidak dijalankannya garis yang berhaluan erat dengan massa
Sejarah perkembangan masyarakat adalah sejarah massa rakyat pekerja. Rakyat pekerja adalah orang – orang yang bekerja untuk memproduksi barang – barang kebutuhan hidup masyarakat. Menjadi keharusan bahwa perubahan demi perubahan yang dilakukan oleh organisasi gerakan layak dipersembahkan kepada kaum rakyat pekerja yang sama sekali tidak memiliki alat produksi. Munculnya berbagai organisasi yang pada awal sejarahnya difungsikan untuk memperkuat status quo, seperti organisasi – organisasi yang berperspektif politik aliran. Juga gerakan – gerakan yang lahir akibat proses liberalisasi yang tengah dijalankan rezim kapitalisme intenasional, bergungsi untuk melunakkan kontradiksi – kontradiksi antara kepentingan klas yang berdominasi dan klas yang didominasi dan berfusi dengan kepentingan politik mapan. Pada kenyataannya banyak organisasi yang bergerak sebatas “ atas nama “ rakyat. Pertama, gerakan LSM – isme menjadi buktinya, bukan memajukan perlawanan rakyat untuk merebut perubahan total melainkan mendorong penyesuaian logika rakyat tertindas terhadap aturan main penguasa. Gerakan ini berorientasi pada perubahan yang bersifat transformatif. Kedua, tak luput dengan partai politik legal yang ada tidak menempatkan rakyat pekerja sebagai pemegang perubahan masa depan justru mengedepankan kepentingan sektarian dan modal. Adanya partai yang berani mengatakan partainya wong cilik itu adalah mitos.
Mandegnya saluran mekanisme kritik
Menyalahkan lawan tetapi tidak pernah memberikan evaluasi pada tubuh organisasi gerakan adalah sangat dangkal. Kekuatan anti perubahan tidak bisa kita harapkan untuk berubah kecuali kita yang mengubahnya.
Argumen penting adanya mekanisme kritik adalah bahwa
pertama, segala perencanaan yang dilakukan tidak sama persis dengan pelaksanaan dan tentu tidak sempurna.
Kedua, evaluasi dengan mekanisme kritik bukan untuk sebatas mencari kesalahan tetapi mencoba meminimalisir kesalahan pada aksi – aksi gerakan berikutnya.
Ketiga, bahwa kritik lebih diletakkan pada kemajuan organisasi bukan untuk menjatuhkan kehormatan pimpinan. Memang yang seringkali menjadi sorotan juga tentang ketidak beranian anggota untuk menyampaikan pendapat terkait ketidakberesan dalam organisasi.
Dibutuhkan organisasi gerakan sistematik dan terorganisir
Berangkat dari analisa kelemahan – kelemahan mendasar adanya benih – benih opurtunisme dalam tubuh gerakan diperlukan sebuah perubahan secara total pada setiap organisasi gerakan baik persoalan cara pandang sampai wilayah metodologi gerakan. Pertama, penguatan ideologi gerakan dengan pula mampu membedakan ideologi kaum penghisap dengan kaum terhisap. Kedua, memutus hubungan dengan kaum opurtunis, ketiga, membersihkan organisasi dari penyusupan dan mewaspadai garis revisionis dengan merubah sistim longgar menjadi ketat.
Secara jelas, semua harus dicoba dan dibuktikan dalam praktek. Semua berangkat dari pengetahuan yang didapatkan dari praktek dijadikan pegangan teori dan senantiasa dipraktekkkan kembali secara terus menerus. Perjuangan tidak mengenal kata henti. Organisasi maju berbekal teori maju, memiliki kader yang tangguh dan militan dan sistematik – terorganisir.
Salam kami dari jalanan .....
Setialah hingga akhir dalam keyakinan.....
Salam Juang – PmkriNias
TENTANG ANALISA KLAS
Klas adalah kelompok orang seperti itu, yang memiliki hubungan yang sama terhadap alat-alat produksi ( milik, alat-alat dan mesin ) dan memainkan peranan dalam pemisahan kerja secara sosial, atau singkatnya, kondisi ekonomi yang sama. Sebagimana dijabarkan Lenin: klas adalah sekelompok besar orang yang berbeda satu sama lain karena tempatnya dalam sistem produksi yang ditentukan secara historis ( dalam kebanyakan kasus ditetapkan dan dirumuskan dalam hukum-hukum ), posisinya terhadap alat-alat produksi, peranannya dalam organisasi kerja secara sosial, dan karena itu juga ditentukan oleh dimensi-dimensi kemakmuran sosial yang mereka peroleh dan metoda mendapatkan bagiannya. Klas adalah kelompok orang yang memungkinkan klas yang satu menikmati hasil kerja klas lain, bergantung pada posisi yang mereka tempati dalam sistem sosial ekonomi tertentu.
Setiap orang mempunyai kedudukan tertentu dalam masyarakat. Dalam masyarakat berklas, ia tergolong ke dalam dan mempunyai kepentingan klas tertentu. Keadaan ini sangat mempengaruhi pikiran dan pandangannya. Dengan kata lain, asal usul klas seseorang ikut menentukan pandangan klasnya. Oleh karenanya, walaupun seseorang mempunyai pandangan filsafat yang benar, tetapi bila hasilnya itu ternyata bertentangan dengan kepentingan klasnya, maka mereka bisa disebut kaum borjuis, dimana mereka dihadapkan pada satu pilihan : mengkhianati klasnya atau melepaskan pandangan filsafatnya yang benar itu. Kalau ia hendak mempertahankan kepentingan klasnya, ia tidak dapat secara konsisten mempertahankan filsafatnya yang benar itu.
Masyarakat klas muncul ketika kekuatan-kekuatan produksi berkembang sampai sebuah titik diamana ada produksi berlebih dari kerja sosial, yang ditimbulkan misalnya oleh perbaikan cara-cara bertani. Begitu ada kelebihan produksi dari yang sebenarnya diperlukan untuk keperluan langsung, muncul basis untuk “waktu senggang”, klas tidak bekerja yang mengambil alih surplus yang diciptakan oleh anggota masyarakat yang lain. Keadaan ini tidak muncul dalam suasana damai, tetapi melibatkan penundukan secara paksa maupun melalui cara-cara lain (politik, hukum, agama dan sebagainya) oleh karena penguasa untuk memperkuat klaimnya atas pemilikan pribadi dan atas kerja produk yang dihasilkan klas pekerja. Hubungan klas ini (dimana ada satu kelompok mengambil hasil produksi kelompok orang lain) disebut dengan eksploitasi.
Masyarakat klas mengalami tahap-tahap perkembangan yang berbeda-beda, mulai dari perbudakan kuno, feodalisme dan kapitalisme. Dalam setiap tahap ini, ada dua klas utama yang berhadap-hadapan satu sama lain dalam proses produksi dan semua hubungan sosialnya : dalam perbudakan, budak dengan pemilik budak ; dalam feodalisme, hamba dengan tuan ; dalam kapitalisme, proletariat dengan borjuis.
Kita bisa lihat bahwa klas-klas tidak tidak terletak dalam hubungan yang netral. Dalam hubungan itu, tidak terelakan suatu hubungan pertentangan karena satu klas menempati posisi subordinat. Walaupun klas-klas dapat menempati posisi yang sama selama beratus-ratus tahun, selalu ada pertentangan yang terus menerus untuk mengubah hubungan klas ini.
Kaum borjuis Eropa ketika sebagai klas tertindas (walaupun ia juga bagian dari klas yang ikut menghisap tenaga kerja orang lain), sebagai klas yang progresif dan revolusioner, melawan kekuasaan feodal, mempersenjatai diri dengan materialisme (sekalipun materialisme Prancis pada abad XVIII adalah materialisme mekanisme). Tetapi sewaktu kaum borjuis ini berkuasa mereka menjadi penindas dan penghisap klas pekerja dan menjadi klas yang reaksioner atau kontra revolusi. Mereka berbalik mengibarkan panji-panji idealisme. Dalam hal-hal tertentu, kaum borjuis misalnya menggunakan pandangan dan metode ilmiah atau materialisme dialektik terhadap gejala alam dan teknologi, karena penguasa terhadap teknologi dan alam itu sesuai dengan kepentingan mereka. Tetapi mengenai gejala-gejala sosial dan peristiwa-peristiwa sejarah, mereka tidak konsisten menggunakan titik pandang dan metode yang ilmiah lagi. Mengapa? Tidak lain karena materialisme dialektis akan mengungkapkan kenyataan masyarakat kapitalistis apa adanya, dimana terdapat penghisapan modal (kapitalis) terhadap tenaga kerja, penghisapan klas kapitalis terhadap klas buruh dan rakyat pekerja lainnya, terhadap kepincangan-kepincangan dan stagnasi yang menghambat perkembangan masyarakat untuk lebuh maju. Dan hanya klas pekerja yang mampu mengubur sistem sosial kapitalisme dan akan membawa manusia ketingkat yang lebih tinggi, masyarakat adil dan makmur, yang bebas dari kemiskinan dan segala macam ketidakadilan, bebas dari penghisapan atas manusia oleh manusia. Semua ini tentu saja tidak akan menguntungkan klas kapitalis. Maka mereka sangat memusuhi dan selalu menyebarkan idealisme menyesatkan yang membohongi rakyat pekerja. Sebaliknya, filsafat materialisme dialektik yang dapat mencermikan kenyataan dengan objektif menjadi senjata paling ampuh bagi rakyat yang tertindas dalam perjuangan untuk pembebasan mereka.
Konflik klas dan transformasi masyarakat adalah ciri-ciri yang tidak terhindarkan dalam sejarah manusia. Ini kemanusiaan terus menerus didorong oleh perbaikan kondisi hidup yang terus memerlukan perbaikan teknik-teknik produksi (kekuatan produksi), dan selalu akan terlibat dengan konflik dengan hubungan-hubungan sosial yang ada (hubungan produksi). Ketegangan antara kekuatan dan hubungan produksi dijalankan oleh manusia melalui perjuangan klas. ( Ini tidak berarti bahwa sejarah manusia selalu mengikuti kemajuan yang lincar. Ada beberapa periode panjang dimana tidak ada kemajuan teknologi dan bahkan banyak kemunduran-kemunduran. Namun proses menuju kemajuan tidak terhindarkan karena manusia selalu berusaha memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup dengan cara yang paling efektif)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar